Enter your keyword

post

10 Alasan Yang Harus Dihindari Ketika Memilih Program Studi

10 Alasan Yang Harus Dihindari Ketika Memilih Program Studi

 

Masa-masa putih abu-abu sangat menyenangkan. Lebih menyenangkan lagi dunia baru setelah lulus SMA. Gedung baru, pengajar baru, teman baru, dan lingkungan baru menanti tiap calon mahasiswa.

Ketika kamu baru terjun ke dunia kampus, itu tandanya kamu termasuk Mahasiswa Baru (MABA). Sebagian dari kamu ada yang sangat excited, sebagian lagi mungkin ada yang khawatir dan cemas.

Sebelum akhirnya menentukan jurusan apa yang akan diambil di universitas, sebagian besar dari tiap calon mahasiswa akan dihadapkan pada pilihan yang dilematis. Apakah jurusan tersebut cukup menjanjikan? Sanggupkah menjalani tiap tugas berat yang nantinya akan diberikan? Atau apakah jurusan yang diincar adalah jurusan yang cukup prestise di mata orang lain?

Menentukan jurusan kuliah memang gampang-gampang susah. Berbagai pertimbangan menjadi alasan sebelum menentukan pilihan. Hal tersebut wajar, mengingat jurusan yang diambil sedikit banyak berpengaruh pada karier dan masa depan.

Ada beberapa alasan yang sebaiknya tidak kamu gunakan untuk menentukan jurusan yang akan kamu ambil nantinya. Mau tahu apa saja alasannya?

1. Memilih Jurusan Dengan Alasan Kemudahan.

“Kamu Masuk Fakultas Humaniora Karena Menganggap Ilmunya Lebih Gampang Dibanding Fakultas Teknik dan MIPA”

Tak sedikit darimu yang mungkin memilih jurusan berdasar alasan kemudahan. Mendengar cerita kakak-kakak angkatan yang tenggelam dalam tumpukan tugas membuatmu berkeinginan memilih jurusan yang tidak banyak tugas, tidak memusingkan, dan cukup mudah dilalui. Apalagi bagi kamu yang membenci pelajaran matematika, jurusan yang tidak memiliki mata kuliah “hitung-hitungan” menjadi salah satu patokan dalam memilih jurusan.

Bahkan kamu, yang di SMA mengambil jurusan IPA, banting setir mengambil jurusan IPS, seperti jurusan Humaniora, Komunikasi, HI, Hukum, dan Sosiologi karena merasa proses kuliahnya menyenangkan, tidak terlalu sulit, dan tidak banyak membutuhkan analisis, sehingga bisa dijalani dengan santai.

Meskipun begitu, namanya juga kuliah, semua tentu perlu dijalani dengan sistematis dan dalam koridor kognitif yang benar.

Aturan yang sama berlaku bagi jurusan di fakultas lainnya. Beban tugasnya pun sama beratnya, begadangnya pun tak kalah beda dengan jurusan Teknik yang selama ini terkenal susahnya.

2. Memilih Jurusan Berdasar Standar Kekerenan.

“Masuk Jurusan Pendidikan Dokter Karena Dianggap Bergengsi dan Menawarkan Gaji Tinggi”

Jurusan Pendidikan Dokter menjadi salah satu jurusan yang peminatnya tak pernah sepi. Setiap tahun ajaran baru, ribuan bahkan ratusan ribu orang berlomba mencoba keberuntungan agar bisa diterima di jurusan yang termasuk salah satu paling bergengsi di negeri ini.

Apakah benar kuliah di Jurusan Pendidikan Dokter memang bergengsi dan menawarkan gaji tinggi?

Perjalanan menjadi dokter tidaklah semudah yang kamu kira. Pertama kamu perlu menyelesaikan kuliah selama kurang lebih 4 tahun untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran. Setelah itu kamu perlu masuk ke dunia Ko-ass yang menantang. Setelah lulus Ko-ass, barulah kamu bisa mengikuti sumpah dokter dan mendapatkan gelar dr. di depan namamu.

Apakah perjuangan sudah selesai? Tunggu dulu! Masih ada UKDI, internship, masa jadi residen, sampai ambil sub-spesialis.

Kalau kamu memang ingin masuk Jurusan Kedokteran, pastikan kamu memang ingin mengabdi dan tak keberatan mendedikasikan hidup untuk belajar tanpa mengenla waktu. Ini bukan tentang gengsi atau gaji tinggi karena dokter internship pun mendapat gaji yang tak seberapa. Ini tentang bagaimana kamu mau mendedikasikan hidupmu untuk sesuatu yang lebih berarti.

3. Karena Takut Kesepian dan Merasa Paling Tertinggal, Kamu pun Memilih Masuk Jurusan yang Sama Dengan Teman-teman

Mungkin semasa SMA kamu belum memiliki ketertarikan yang spesifik terhadap suatu hal. Apakah itu sesuatu yang berhubungan dengan seni, hukum, atau ekonomi. Tidak ada satu bidang pun yang berhasil menarik perhatianmu. Situasi ini membuatmu merasa bingung ingin mengambil jurusan apa untuk di pelajari di bangku kuliah nanti.

Sementara itu di sisi lain teman-temanmu sudah memiliki pilihannya sendiri dan bahkan sudah sibuk daftar ke mana-mana. Kondisi tersebut membuat kamu kebakaran jenggot sehingga kamu pun terburu-buru ikutan mendaftar. Parahnya, kamu mendaftarkan diri di jurusan yang bukan saja tidak kamu minati, tetapi juga tidak kamu ketahui seluk-beluknya seperti apa. Aksi “mencontek” jurusan teman pun dilakukan dengan pertimbangan yang minim. Setelah berkuliah barulah kamu tahu bahwa jurusan tersebut tidak kamu sukai.

4. Iming-Iming Pendapatan Besar Membuatmu Tergoda Untuk Mengambil Jurusan Teknik Padahal Gaji Besar di Ranah Teknik Juga Tak Bisa Didapatkan Semudah Menjentikkan Jari

Kamu punya ekspetasi besar terhadap gaji di dunia pekerjaan nantinya. Maka dari itu ketika memilih jurusan apa yang akan diambil, pilihan pun jatuh pada jurusan-jurusan yang menjanjikan gaji besar untuk para lulusannya. Maka wajar saja jika Jurusan Teknik adalah jurusan yang dianggap sebagai “lahan basah” bagi banyak lulusan SMA yang bercita-cita ingin kaya.

Ada 2 kenyataan yang harus kamu pertimbangkan jika memutuskan masuk ke jurusan Teknik:

Kini perusahaan sudah makin terbuka terhadap latar belakang pendidikan para pelamar. Bahkan lulusan sosio-humaniora pun bisa masuk ke perusahaan kontraktor atau pertambangan (tentunya tidak ditempatkan di off-shore site atau sebagai eksekutor di lapangan). Namun ini menunjukkan bahwa kini jurusan apapaun punya kesempatan untuk mendapatkan gaji besar.

Gaji tinggi sebagai lulusan jurusan teknik tak serta merta akan kamu dapatkan. Ada proses training, OJT, hingga perlu meniti karir dari level bawah seperti dalam pekerjaan-pekerjaan lainnya. Belum lagi konsekuensi dari pekerjaan ini yang mengharuskanmu berpisah dari keluarga dalam jangka waktu lama.

Jika sudah begini sesungguhnya tak ada yang menjamin masa depan gaji seseorang. Memang pada dasarnya jurusan kuliah bisa menentukan, tetapi di akhir nanti semua akan bergantung pada keuletanmu sebagai pribadi.

5. Ilmu Ekonomi, Manajemen, dan Akuntansi Kamu Anggap Sebagai Jurusan yang Daya Serap Lulusannya Paling Tinggi. Padahal Kenyataannya Tak Selalu Semanis Impian

Karena berpikir bahwa setiap perusahaan pasti membutuhkan jasa seorang akuntan, kamu pun memutuskan masuk ke Jurusan Akuntansi di sebuah universitas ternama. Setelah kuliah kurang lebih selama 4 tahun, angan-angan untuk segera mendapat pekerjaan karena merasa jurusanmu cukup dibutuhkan seolah menggantung di depan mata.

Akan tetapi setelah lulus kamu akhirnya tahu bahwa lulusan jurusan akuntansi jumlahnya sangat banyak. Mirisnya, kemampuan perusahaan untuk menyerap lulusan jurusan akuntansi tak sebanyak itu. Realita sulitnya mencari pekerjaan baru dibuktikan setelah ijasah telah berada di dekapanmu. Meskipun jurusanmu termasuk jurusan yang cukup populer kamu tetap harus kerja keras untuk mendapat pekerjaan.

6. Masuk Jurusan Tertentu Karena Merasa Itu Sudah Tradisi Keluarga: Mulai Dari Kakek Sampai Cucu Generasi Ketiga, Semuanya Menjadi Pengacara

Angan-angan untuk menjadi komikus terkenal sebenarnya sudah masuk ke dalam daftar rencana hidup jangka panjangmu. Berbagai piagam penghargaan lomba menggambar pun berjejer rapih di dalam lemari pajang di kamar. Namun, ketika mengisi formulir jurusan universitas, kamu mengisi jurusan hukum dan bukan seni rupa atau desain komunikasi visual. Kenapa bisa begitu? Bisa jadi salah satunya karena alasan, “Ya habis mau gimana lagi, papaku nyuruhnya gitu. Katanya sudah jadi tradisi keluarga.”

Kalau kamu adalah anak pengacara sukses yang digadang-gadang untuk meneruskan biro konsultan hukum keluarga yang sudah terun temurun. Padahal jika boleh jujur, menganalisis berkas acara hukum, berdebat dengan hakim, bahkan sampai mengirim orang ke penjara tak pernah ada dalam bayanganmu. Kira-kira bagaimana sikapmu?

7. Takut Dianggap Tak Sesuai Jenis Kelamin, Kamu Urung Mengambil Jurusan Tata Boga, Tata Busana, atau Keperawatan.

Kamu adalah pria yang punya selera oke soal dunia masak memasak. Bahkan tak jarang jika akhir minggu tiba, kamu senang sekali bergelut di dapur dan menghasilkan masakan-masakan istimewa. Tapi ketika ingin masuk Jurusan Tata Boga, ada pemikiran bahwa memasak itu identik dengan perempuan. Sebenarnya pemikiran tersebut bisa saja datang dari kamu ataupun orang lain.

Padahal jurusan apapun yang diambil tidak akan mempengaruhi sisi maskulinitas atau feminitasmu. Begitu juga dengan perempuan yang tertarik dengan jurusan perminyakan. Tak perlu takut dikira gahar karena jurusan favoritmu biasanya akan didominasi oleh kaum lelaki. Memilih jurusan hendaknya disesuaikan dengan kemampuan serta minatmu dan bukan berdasar streotype yang berlaku.

8. Asal Masuk Perguruan Tinggi Negeri, Kamu Tak Peduli. Apapun Jurusan yang Menerimamu Akan Kamu Jalani

Entah bagaimana anggapan bahwa almamater kuliah akan menentukan kelancaran karir ini bisa berkembang. Padahal sekarang kenyataannya banyak kok universitas swasta yang tak kalah berkualitasnya dengan universitas negeri. Semua kembali lagi pada kamu yang menjalani dan sekuat apa kamu mau berusaha untuk mengejar mimpi.

Jika memang ingin mengambil jurusan tertentu yang sulit dimasuki di universitas negeri karena persaingannya yang sangat ketat, tak perlu ragu mengambilnya di Universitas Swasta. Yakinlah passion-mu jauh lebih berharga dari sebuah ijazah berembel-embel “Negeri.”

9. Jangan Pernah Merasa Harus Kuliah Hanya Karena Semua Orang di Sekelilingmu Melakukannya. Nyatanya, Jalan dan Pilihan Hidup Orang Itu Berbeda

Ada banyak orang yang sejak masih duduk di bangku SMA sebenarnya sudah menyadari bahwa dirinya tak memiliki ketertarikan akan dunia pendidikan. Membuat usaha dan mengembangkan usaha tersebut adalah mimpi yang tak pernah absen dalam pikiranmu. Namun karena rata-rata temanmu di SMA melanjutkan ke universitas, akhirnya kamu pun ikutan mendaftarkan diri.

Setelah mulai kuliah kamu pun semakin menyadari bahwa dunia tersebut benar-benar tak menarik untuk digeluti. Kondisi ini membuat kamu merasa stres selama proses perkuliahan. Jika ini yang terjadi kamu sebenarnya hanya menyia-nyiakan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih berarti.

Kalau memang nggak mau kuliah, ya jangan santai-santai saja di rumah dan malah menyusahkan orangtua. Cari kerja dan wujudkan semua rencana yang kamu yakini bisa tercapai tanpa harus melalui pendidikan formal. Meskipun begitu, jangan anggap apa yang disampaikan di sini benar-benar membuat kamu untuk tidak kuliah. Mau kuliah atau langsung kerja selepas SMA, intinya kamu sudah yakin dengan apa yang kamu pilih dan akan kamu jalani nanti. Yakinkan dirimu sedalam mungkin dengan bertanya meminta saran pada orangtua atau teman-teman terdekatmu. Jika sudah yakin mana yang kamu ambil, persiapkan dengan baik rencana dalam setiap prosesnya nanti. Contoh paling gampang sebagai pembanding kalau kamu benar-benar memilih langsung bekerja selepas SMA adalah kisah hidup perjalanan Saran Menteri Susi Pudjiastuti.

10. Kamu Batal Masuk Jurusan Sastra, Arkeologi, Krimonologi, Ilmu Matematika Murni, dan Jurusan Lain yang Dianggap Tidak Begitu Bergengsi Karena Takut Tidak Dapat Pekerjaan. Hey, Semakin Spesifik Ilmumu, Kesempatan Kerja Justru Besar!

Jurusan-jurusan yang (dianggap) tidak begitu bergengsi biasanya sepi peminat karena calon pelamarnya takut tidak punya masa depan setelah lulus nanti. Padahal kenyataan di dunia kerja tak sehitam-putih bayanganmu saat ini lho. Kamu yang lulusan sastra BISA BANGET masuk ke Kementerian Luar Negeri untuk berkarir sebagai diplomat. Kemampuan berbahasa dan pengetahuanmu atas kebudayaan negara tersebut akan jadi bekal yang sangat berarti.

Begitu pun jurusan Kriminologi. Dengan gelar Kriminologimu kamu bisa mendaftar jadi wartawan khusus kolom kriminal yang bisa punya karir profesional. Jika wartawan lain hanya bisa melaporkan sebuah kejadian lewat gambaran visual saja kamu bisa menuliskan beritamu dengan pendekatan yang lebih ilmiah, dengan mengamati pola percikan darah. Jika ini ditekuni dan didukung dengan kemampuan jurnalistik yang mumpuni, yakinlah bahwa pekerjaan sebagai wartawan kriminal dan perang internasional akan menantimu.

Jangan pernah percaya bahwa jurusan kuliahmu tak punya masa depan. Jika kamu excellent di bidang itu kesempatan kerjalah yang akan dengan senang hati mendatangimu.

Saat memilih jurusan apa yang hendak kamu ambil, sebaiknya tutup telinga dari semua hal yang menurutmu malah menyesatkanmu. Dasarkan pilihan tersebut pada minat dan bakatmu.

***

Ketika kamu masuk ke jurusan yang memang kamu inginkan, kamu akan memiliki energi penuh untuk menjalani proses tersebut dengan keseriusan. Keseriusan inilah yang sebenarnya akan mengantarkanmu pada keberhasilan yang kamu idam-idamkan. Semoga kamu sukses, ya!

Sumber artikel: hipwee.com

Sumber foto: http://siitjaipur.org/blog/importance-of-discipline-in-college-life/

No Comments

Add your review

Your email address will not be published.